Selasa, 27 Maret 2012

TEORI PEMROSESAN INFORMASI DALAM MEMORI MANUSIA


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Teori pemrosesan informasi ini didasari oleh asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil komulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi proses informasi, untuk diolah sehingga menghasilkan bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.Tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase:1) Motifasi, 2) Pemahaman, 3) Pemerolehan, 4) Penyimpanan, 5) Ingatan kembali, 6) Generalisasi, 7) Perlakuan, 8) Umpan Teori Pemrosesan Informasi
Informasi adalah pengetahuan yang didapat dari pembelajaran, pengalaman atau instruksi. Dalam beberapa hal pengetahuan tentang situasi yang telah dikumpulkan atau diterima melalui proses komunikasi, pengumpulan intelejan dan didapatkan dari berita, juga disebut informasi. Informasi yang berupa koleksi data dan fakta dinamakan informasi statistik. Dalam bidang ilmu komputer, informasi adalah data yang disimpan, diproses atau ditransmisikan. Penelitian ini memokuskan pada definisi informasi sebagai pengetahuan yang didapatkan dari pembelejaran, pengalaman, dan instruksi.
Model pemrosesan informasi beranggapan bahwa anak-anak mempunyai kemampuan yang lebih terbatas dan berbeda dengan orang dewasa. Anak-anak tidak dapat menyerap banyak informasi, kurang sistematis dalam hal informasi apa yang diserap, tidak banyak mempunyai strategi untuk mengatasi masalah, tidak mempunyai banyak pengetahuan mengenai dunia yang diperlukan untuk memahami masalah, dan kurang mampu memonitor kerja proses kognitifnya.
Perkembangan anak yang optimal merupakan tujuan para psikolog perkembangan, maka sangat relevan jika individu-individu yang berkecimpung dibidang ini melakukan penelitian yang tujuanya bermuara pada meningkatkan kemampuan pemrosesan informasi. 
Salah satu teori kognitif yang menjelaskan proses belajar pada diri seseorang yang berkenaan dengan tahap-tahap proses pengolahan informasi adalah teori pemrosesan informasi. Menurut teori ini proses belajar tidak berbeda halya dengan proses menerima,menyimpan dan mengungkapken kembali dengan informasi-informasi yang telah diterima sebelumnya. Genjala-gejala tentang belajar dapat dijelaskan jika proses belajar itu dianggap sebagai proses transformasi masukan menjadi keluaran. Jadi, proses belajar tersebut mirip dengan apa yang terjadi pada sebuah komputer.
Berbagai pemahaman tentang belajar telah benyak dikemukakan oleh para ahli dari berbagai aliran. Paparan ini mencoba menyajikan pemahaman tentang belajar dari sudut pandang teori pemrosesan informasi. Proses belajar menurut teori ini meliputi kegiatan menerima, menyimpan dan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah diterima. Belajar tidaklah hanya apa yang anda lihat, yang penting bagaimana proses kognitif itu terjadi dalam diri pembelajar.

B.  Rumusan Masalah
Untuk mendapatkan makalah yang terarah diperlukan adanya rumusan masalah. Berdasarkan latar belakang di atas dapat kita rumuskan masalah yang ada sebagai berikut :
1.      Apa definisi dari pengolahan informasi?
2.      Apa definisi dari memori manusia?
3.   Bagai mana teori-teori pengolahan informasi dalam memori manusia?
4.   Bagai mana hubungannya pengolahan informasi dengan memori manusia?

C.  Tujuan Pembuatan Makalah
Pemakalah harus memiliki tujuan yang jelas. Pemakalah dalam hal ini memiliki tujuan mengetahui tentang konsep dasar dari teori pemrosesan informasi dalam memori manusia serta landasannya dan penerapan teori pemrosesan informasi di kelas. 

D.  Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis dan secara praktis.
1.        Manfaat Teoretis
a.       Hasil penelitian ini daharapkan dapat bermanfaat untuk dijadikan acuan jika akan diadakan penelitian lanjutan.
b.      Hasil penelitian ini daharapkan bermanfaat bagi kalangan mahasiswa dan pembaca yaitu menambah wawasan, pengetahuan tentang teori pemrosesan informasi.
2.             Manfaat Praktis
a.       Bagi penulis diperoleh manfaat dan penerapan dari teori pemrosesan informasi di kelas.
b.       Bagi masyarakat dapat dijadikan sebagai informasi dan pengetahuan tentang teori pemrosesan informasi.














BAB II
PEMBAHASAN

A.  Definisi Pengolahan Informasi
Pengetahuan yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan pada memori panjang secara tersusun. Tahapan pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja berfokus pada bagaimana pengatahuan baru yang dimodifikasi.
Urutan dari penerimaan informasi dalam diri manusia dijelaskan sebagai berikut: pertama, manusia menangkap informasi dari lingkungan melalui organ-organ sensorisnya yaitu: mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit. Beberapa informasi disaring pada tingkat sensoris, kemudian sisanya dimasukkan dalam ingatan jangka pendek. Ingatan jangka pendek mempunyai kapasitas pemeliharaan informasi yang terbatas sehingga kandungannya harus diproses secara sedemikian rupa (misalnya dengan pengulangan atau pelatihan), jika tidak maka akan lenyap dengan cepat.
Bila diproses, informasi dari ingatan jangka pendek dapat ditransfer dalam ingatan jangka panjang. Maka ingatan jangka panjang merupakan hal penting dalam proses belajar. Karena ingatan jangka panjang merupakan tempat penyimpanan informasi yang faktual (disebut sebagai pengetahuan deklaratif) dan informasi bagaimana cara mengerjakan sesuatu.
Tingkat pemrosesan stimulus informasi diproses dalam berbagai tingkat kedalaman secara bersamaan bergantung kepada karakternya. Semakin dalam suatu informasi diolah, maka informasi tersebut akan semakin lama diingat. Sebagai contoh, informasi yang mempunyai imajinasi visual yang kuat atau banyak berasosiasi dengan pengetahuan yang telah ada akan diproses secara lebih dalam. Demikian juga informasi yang sedang diamati akan lebih dalam diproses dari pada stimuli atau kejadian lain di luar pengamatan. Dengan kata lain, manusia akan lebih mengingat hal-hal yang mempunyai arti bagi dirinya atau hal-hal yamg menjadi perhatiannya karena hal-hal tersebut diproses secara lebih mendalam dari pada stimuli yang tidak mempunyai arti atau tidak menjadi perhatiannya.
Pengulangan memegang peranan penting dalam pendekatan model. Penyimpanan juga dianggap penting dalam pendekatan model tingkat pemrosesan. Namun hanya mengulang-ulang saja tidak cukup untuk mengingat. Untuk memperoleh tingkatan yang lebih dalam, aktivitas pengulangan haruslah bersifat elaboratif. Dalam hal ini, pengulangan harus merupakan sebuah proses pemberian makna dari informasi yang masuk. Dari penjabaran diatas secara sederhana, Irwanto (1999) mendefinisikan pengolahan informasi sebagai kemampuan untuk menyimpan informasi sehingga dapat digunakan lagi di masa yang akan datang. Galotti (2004) mendefinisikan pengolahan informasi sebagai suatu proses kognitif yang terdiri atas serangkaian proses, yakni : penyimpanan (storage),retensi, dan pengumpulan informasi (information gathering). Sebagai suatu proses pengolahan informasi memilikimarti menunjukkan suatu mekanisme dinamik yang diasosiasikan dengan penyimpanan (storing), pengambilan (retaining), dan pemanggilan kembali (retrieving) informasi mengenai pengalaman yang lalu (Bjorklund,Schneider, & Hernández Blasi, 2003; Crowder, 1976, dalam Stenberg, 2006).
B.  Definisi Memori Manusia
              Memori atau sering kita kenal sebagai ingatan menurut Santrock (2008) adalah penahanan/penyimpanan informasi yang berlangsung dari waktu ke waktu. Pemrosesan informasi dalam memory melibatkan kegiatan penyandian atau pengkodean (encoding), penyimpanan (storage) dan pengambilan kembali (retrieval). Dalam bahasa sehari-hari kegiatan encoding umum dikenal dengan istilah atensi/perhatian atau belajar. Menurut Santrock atensi adalah konsentrasi atau pemfokusan sumber daya mental. Seiring dengan pertumbuhannya kemampuan atensi anak dapat bertahan lebih lama.
              Kita mengenal tiga macam memori yaitu memori indra (sensory memory), memori jangka pendek (short term memory) dan memori jangka panjang (long term memory). Memori indra menahan informasi asli yang di dapat dari dunia sekitar yang diperoleh dari pancaindera. Memori ini berlangsung hanya sekejap. Memori jangka pendek menurut Santrock adalah memori dengan kapasitas terbatas dan hanya bertahan 30 detik, kecuali jika informasi itu kita ulang atau latih atau diproses lebih lanjut. Berkaitan dengan memori jangka pendek ini, Alan Baddeley seperti yang dikutip Santrock mengenalkan apa yang disebut working memory yaitu tempat di mana informasi diolah dan dibentuk untuk membantu kita menyelesaikan masalah, mengambil keputusan atau memahami bahasa lisan atau tertulis.
              Sedangkan memori jangka panjang (long term memory) adalah jenis memori yang menyimpan informasi dalam jumlah yang sangat besar dalam jangka waktu yang panjang dan relatif menetap. Manusia mempunyai memori jangka panjang yang tersusun apik. Kita bisa mengambil kembali informasi yang ada pada memori jangka panjang kita untuk peristiwa lampau dalam waktu yang relatif cepat. Dalam hal ini ada tiga model dalam kaitan memori seperti yang dijelaskan oleh Atkinson-Shiffrin seperti yang dikutip oleh Santrock (2008) membuat model yang berkaitan dengan 3 macam memori yang melibatkan urutan dari memori indra, memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Dari model tersebut tergambarkan bahwa memori indra menahan informasi hanya sekejap. Dan informasi itu akan masuk ke memori jangka pendek jika ada pemfokusan perhatian. Lalu menurut Atkinson dan Shiffrin, semakin lama informasi berada dalam memori jangka pendek melalui kegiatan latihan atau pengulangan, semakin besar besar kemungkinannya informasi itu tersimpan di memori jangka panjang.

C. Teori-teori Pengolahan Informasi dalam Memori Manusia
            1.Teori kognitif dan kognisi

Kognisi bisa diartikan pikiran. Menurut Gagne seperti yang dikutip Jamaris (2010) bahwa kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada saat manusia sedang berpikir. Teori kognitif menekankan peranan struktur ingatan dan pengetahuan terhadap proses penerimaan, pemrosesan, penyimpanan dan pemanggilan kembali informasi.
Teori kognitif tertuju kepada hal-hal yang terjadi didalam kepala kita ketika kita belajar atau pun berpikir. Teori kognitif juga mengambil perspektif bahwa siswa secara aktif memproses informasi dan pembelajaran berlangsung melalui usaha-usaha siswa ketika siswa mengaturnya, menyimpannya dan kemudian menemukan hubungan-hubungan antara informasi, hubungan baru dengan pengetahuan lama, skema, dan teks, pendekatan kognitif menekankan bagaimana informasi di proses. 
            2.Teori Perkembangan Piaget
              Psikolog Swis, Jean Piaget, merancang model yang mendeskripsikan bagaimana manusia memahami dunianya dengan mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi. Menurut Piaget seperti yang dikutip Woolfolk (2009) perkembangan kognitif dipengaruhi oleh  maturasi (kematangan), aktivitas dan transmisi sosial. Maturasi atau kematangan berkaitan dengan perubahan biologis yang terprogram secara genetik. Aktivitas berkaitan dengan kemampuan untuk menangani lingkungan dan belajar darinya. Transmisi sosial berkaitan dengan interaksi dengan orang-orang di sekitar dan belajar darinya.
              Piaget mengadakan penelitian pada anak mengenai perkembangan kognitif anak. Dari penelitiannya Piaget mengusulkan 4 tahapan perkembangan kognitif yang tiap tahapannya berhubungan dengan usia dan cara berpikir. Tahap-tahap itu adalah:
1.      Tahap Sensorimotor (dari usia lahir sampai 2 tahun)
              Pada tahap ini seorang bayi membangun pemahamannya tentang dunia sekitarnya melalui koordinasi pengalaman indrawinya dengan gerakan motorik.  Pada awal masa perkembangan bayi tak berbeda jauh dari gerakan refleksnya. Di akhir tahapan seorang bayi mulai bisa membedakan dirinya dan dunia sekitarnya dan mulai menyadai bahwa objek akan tetap ada walau tak terlihat atau tak terdengar.
2.      Tahap Preoperasional (kira-kira usia 2 sampai 7 tahun)
              Ciri utama fase ini adalah berpikir simbolik dan berpikir intuitif, egosentris dan animisme serta suka mendengarkan dongeng. Berpikir simbolik pada fase ini adalah anak sudah dapat mengungkapkan konsep yang tersusun dalam skemata di dalam imajinasinya, dan diungkapkan dalan bentuk kalimat dan gambar. Sedangkan animisme artinya anak percaya bahwa objek yang tidak bergerak dapat melakukan kegiatan seperti benda hidup.  Pada tahap ini anak belum bisa berpikir konservasi atau irreversibel.


3.      Tahap Operasional Konkret (kira-kira usia 7 sampai 11 tahun)
              Menurut Santrok juga Jamaris, pada usia ini anak sudah mempu melakukan seriasi dan klasifikasi terhadap satu set objek dan juga menemukan hubungan logis antara elemen-elemen yang tersusun secara teratur (transitivity). Pada tahap ini anak juga mampu memecahkan masalah secara konkrit atau dalam bentuk kegiatan nyata. Selain itu anak juga sudah mulai mengurangi sifat egosentrisnya. Anak pada tahap ini sudah mengerti konsep irreversibel dan konservasi. Misalnya. Anak sudah mulai mengerti bahwa jika air dituangkan ke wadah lain maka volume/banyaknya tetap sama.
4.      Tahap Operasional Formal (kira-kira usia 11- 15 tahun sampai dewasa. Tahap operasional formal adalah tahap terakhir perkembangan kognitif menurut teori Piaget. Siswa pada usia ini telah mampu berpikir abstrak, idealistis dengan cara yang logis.

              Gagne dikenal dengan teori pembelajarannya mengenai Condition Learning. Walaupun awalnya ide-idenya banyak dipengaruh aliran behavourisme, dia banyak memunculkan ide mengenai teori kognitif. Menurut Gagne ranah-ranah pembelajaran mencakup lima komponen utama yaitu: informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan motorik.
Gagne juga mengemukakan mengenai proses kognitif dalam belajar. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,  (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.
Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Kondisi internal mencakup atensi, motivasi, dan mengingat kembali (recall). Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
              Kondisi eksternal menyangkut pemrosesan stimulus yang berasal dari luar. Untuk pembelajaran meliputi empat fase yaitu pertama menerima stimulus, fase ke dua tahapan akuisisi, fase ke 3 penyimpanan (storage) dan fase ke 4 mengambil informasi (retrieval)
             
D. Hubungan Pengolahan Informasi dengan Memori Manusia dan Landasannya

                        Lingkungan sangat berpengaruh terhadap kemampuan mengingat seseorang. Ingatan adalah kemampuan yang dimiliki manusia yang digunakan untuk menyimpan sesuatu yang akan dikeluarkan pada waktu yang akan datang. Ingatan ini sangat diperlukan oleh individu, misalnya suatu kejadian yang tidak menyenangkan terjadi karena suatu kesalahan yang kita buat sendiri sehingga pada saat kita menghadapi masalah yang hampir sama maka kita dapat mengingat dan kesalahan tidak terulang lagi. Ingatan juga sangat dibutuhkan sekali dalam proses pengolahan informasi.
                        Seperti yang dijelaskan oleh Roozendaal (2002) menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa yang membangkitkan (arousing) dapat meningkatkan ingatan. Ketika peristiwa-peristiwa ini diingat, terjadi perubahan hormon dalam otak yang akhirnya membuat ingatan akan peristiwa
tersebut meningkat. Penelitian Wolters & Goudsmit (2005) dan Otani (2007) mengindikasikan peristiwa-peristiwa yang membangkitkan dapat meningkatkan ingatan.
Selain itu, Atkinson & Shriffin (1968, dalam Reed 2007) menjelaskan bagaimana informasi dari luar masuk ke ingatan manusia :  dimana informasi dari luar pertama kali masuk keingatan sensori, ingatan sensori ini sangat mudah hilang karena kapasitasnya yang sedikit. Indera-indera yang bekerja untuk menangkap informasi yang banyak akan mengakibatkan terjadinya kelupaan. Informasi yang dianggap relevan dan penting bagi individu akan diteruskan dan masuk ke ingatan jangka pendek. Ingatan jangka pendek juga memiliki kapasitasnya sendiri, yaitu sekitar 30 detik (Santrock, 2005) dan apabila informasi yang dianggap relevan dan penting bagi individu ini tidak diulang maka informasi tersebut dapat hilang, atau informasi tersebut dilupakan. Informasi yang berhasil masuk ke ingatan jangka pendek akan diteruskan ke ingatan jangka panjang, ingatan jangka panjang merupakan tempat penyimpanan informasi yang relatif permanen (Lahey, 2007).
            Dari hal teresebut yang di jebarkan, jelas pengolahan informasi dengan memori manusia memiliki ketergantungan. Dimana informasi dan momen-momen yang di alami oleh suatu individu dapat di ingat kembali melalui proses pengolahan yang dilakukan oleh otak sebagai suatu bentuk ingatan dari kejadian yang dialami oleh suatu individu.





































BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimulan
Teori pemprosesan informasi menyatakan bahwa hanya sedikit informasi yang dapat diolah dalam memori kerja setiap saat. Terlalu banyak elemen bisa sangat membebani memori kerja sehingga menurunkan keefektifan pengolahan informasi. Jika penerima diharuskan membagi perhatian mereka dan mengintegrasikan secara mental dua atau lebih sumber-sumber informasi yang berkaitan misalnya, teks dan diagram, proses ini mungkin menempatkan suatu ketegangan yang tidak perlu pada memori kerja yang terbatas dan menghambat pemerolehan informasi.
B.     Saran
Dengan penjabaran makalah Teori Pengolahan Informasi Dalam memori Manusia Dan Landasanya. Penulis menyadari masih jauh dari sempurna. Maka dari itu penulis sangat memerlukan saran dan kritik demi kesempurnaan tugas-tugas di kemudian hari.




















MAKALAH
TEORI PENGOLAHAN INFORMASI DALAM MEORI MANUSIA DAN LANDASANNYA





Kelompok V
Nama:   1. Surono
2. Riratmi
3. Miyati
4. Lasinah
5. Nani
6. Asmuni
7. Sudarto
8. Sulistyowati
9. Rusmiyati
10. I Putu Suryawan
11. Maya Purnami


PROGRAM  PASCA SARJANA SEKOLAH TINGGI AGAMA BUDDHA  MAHA PRAJNA CILINCING- JAKARTA
TAHUN 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar